Boma Nerakasura dengan arca Dwarapala bersenjatakan gada dan terdapat
arca Hanoman di kiri gapura, ketiganya berfungsi sebagai simbol penjaga
/ penghalau dari segala hal bersifat negatif yang hendak memasuki
kawasan situs Umbul Jumprit. Bangunan yang telah berumur ratusan tahun
itu memiliki Langgam arsitektur mirip dengan bangunan peninggalan
Majapahit di Mojokerto ( Jawa Timur ).
Setelah berjalan sekitar 100 meter ke dalam lokasi, terdapat simpang
tiga dengan arca Dwarapala diantaranya, simpang yang kiri mengarah ke
Umbul Jumprit sedangkan ke kanan menuruni tangga menuju ke makam Makam
Panembahan Ciptaning Ki dan Nyi Nujum Majapahit. Nama Jumprit disebutkan
dalam serat Centini, karya sastra para pujangga Jawa tahun 1815,
“…Menurut cerita, beliau adalah : Seorang ahli nujum dari kerajaan
Majapahit. Ada pula yang mengatakan, bahwa beliau adalah salah seorang
putra Prabu Brawijaya raja Majapahit…” Menurut Muhtasori, penjaga situs
Umbul Jumprit. Cerita tentang Ki Jumprit diawali pada masa peralihan
Islam, saat Demak berperang dengan Majapahit, Pangeran Singonegoro,
penasehat Prabu Kertabumi Brawijaya V ( Raja Majapahit terakhir )
bertapa di sendang ini dengan ditemani dua pengikut setianya dan seekor
Kera Putih kesayangannya, yang di beri nama Ki Dipo. Pangeran
Singonegoro yang kemudian bergelar Panembahan Ciptaning setelah
bermeditasi sekian lama di sendang akhirnya meninggal. Namun ternyata
sepeninggal tuannya, si Kera Putih itu tetap setia menunggui makam
tuannya. Sedangkan kedua pengikut setianya mulai melakukan perjalanan ke
arah barat, sebelum pada akhirnya mereka pun kembali lagi ke sendang
ini lalu menetap sampai akhir hayatnya.
” …Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan Ki
Jumprit termasuk makam ini. Mata air dan Sendang Jumprit terletak di
bawah gua, dimana mulut gua tersebut dirindangi sulur-sulur pepohonan di
atasnya, air menetes dari sulur-sulur tersebut masuk ke dalam sendang.
Di dalam gua terdapat tempat bersembahyang / meditasi dan kembali
terlihat arca Hanoman dengan ukuran lebih kecil, berlumut, dan tampak
sangat kuno. Kemudian diketahui bahwa itu bukanlah arca Hanoman
melainkan Ki Dipo. Terkadang para Bhiksu ataupun orang biasa yang
bersemedi di dalam gua sendang itu, mengaku melihat sekelebatan kera
putih yang bernama Ki Dipo tersebut , meskipun tak ada yang pernah
mengaku melihatnya dengan sangat nyata. Kawanan kera yang kerap berada
di sekitar wanawisata Umbul Jumprit pun diyakini merupakan keturunan Ki
Dipo ( si Kera Putih ) hasil perkawinannya dengan seekor kera betina
yang datang dari pegunungan Pleret. Hingga kini jumlah kera – kera itu
telah mencapai sekitar 20-30 ekor. Sendang
Jumprit dipergunakan untuk keperluan tirakat / laku perihatin
pengekangan diri bagi pengunjung dengan cara berendam di dalamnya. Air
Suci tersebut dipercaya Kaya akan Berkah dan Keberuntungan. Terdapat
arca Batara Semar / Ismaya dan arca Bima yang sedang bertarung dengan
Dewaruci di sekitar Sendang Jumprit. Sejak tahun 1987, Menjelang 3 hari
sebelum perayaan waisak pada tiap tahunnya, para Bhiksu dari 9 aliran
agama Budha bersama-sama ke Umbul Jumprit untuk berdoa dan mengambil air
berkah dari mata air ini sebagai pembuka prosesi perayaan Waisak.
Sebanyak 10.000 kendi air berkat di pendak / di ambil dari umbul Jumprit
dan digunakan sebagai Tirta Suci untuk memerciki Umat Budha saat
upacara puncak perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur.
Salah satu alasannya adalah karena air di Sendang Jumprit setelah
diteliti oleh para Bhiksu, adalah air sendang yang paling murni dengan
Kadar Spiritual paling bagus dari sendang-sendang lain yang ada di
seluruh Indonesia. Kemurnian airnya menyebabkan Sendang Jumprit dipilih
para Bhiksu Budha sebagai tempat untuk bermeditasi, tidak hanya dari
Indonesia, melainkan juga dari Thailand maupun Srilanka. Dan memang
menurut ahli dari Jerman yang pernah meneliti air sendang ini, ternyata
air Jumprit paling sedikit mengandung unsur bakteri patogen. Awal
keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak
peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat
Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan. Mereka bersemedi / meditasi di
sekitar makam, kemudian diakhiri mandi Kumkum / Berendam di mata air
yang tak pernah kering tersebut. Puncak
keramaian perziarah biasanya terjadi pada dua hari keramat / suci
menurut kepercayaan adat Jawa yaitu :…Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ”.
Apalagi jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00. Seusai kumkum, mereka
membuang pakaian sebagai symbol membuang kekotoran atau segala unsur
negatif dan sakit penyakit yang ada pada diri. Sehingga di harapkan
Keberkahan Hidup yang Baru pun kan datang menjelang. Pada malam Tahun
Baru Jawa 1 Suro di tempat ini pun juga sangat ramai. Dengan didukung
oleh atraksi wisata di Sendang Sidukun, yaitu tradisi Suran Traji dengan
aneka ritual menebar Pusaka Pengantin Lurah Traji. Upacara ini sudah
dilakukan sejak ratusan tahun lalu, yaitu berupa Kirab Lurah.
Untuk mencapai Wanawisata Umbul Jumprit dapat di tempuh dengan 3
jalur, dari arah Magelang, Semarang dan Jogjakarta melalui Kota
Ngadirejo akan tiba di tugu Ngadirejo, ambil arah ke kiri kira-kira
sejauh 8 km akan ada petunjuk yang mengarahkan ke wana wisata Jumprit.
Jika perjalanan dilakukan dari arah Kendal, Weleri, dan Pekalongan dapat
melewati jalur Candiroto kemudian ke arah Jalur Lingkar Jumprit, belok
ke kanan pada perempatan besar sejauh 8 km.
Jalur ketiga merupakan jalur alternatif bagi yang berada di Wonosobo,
melewati perkebunan teh Tambi kira-kira sejauh 10 km. Jika ingin
menginap dikawasan ini tersedia Wisma Perhutani atau juga mendirikan
tenda di bumi perkemahan. Wisatawan bisa menikmati udara segar dan
indahnya pemandangan saat matahari terbit, Airnya juga dingin, jernih
dan menyegarkan. Karena berada di Lereng Gunung Sindoro, hawa ditempat
ini pun cukup dingin. Sehingga bagi para wisatawan yang hendak bermalam
dianjurkan membawa Jaket penahan hawa dingin untuk Bertandang…”
Oleh : DP. Ganatri
Rabu, 15 Oktober 2014
7 Pesona Alam Dataran Tinggi Dieng
Negeri di atas awan. Surga tersembunyi di Pulau Jawa. Dua kalimat inilah yang sering ditujukan untuk menggambarkan keindahan Dataran Tinggi Dieng. Bagi para pencinta alam, Anda wajib memasukkan Dataran Tinggi Dieng ke daftar tempat yang wajib Anda kunjungi. Nah, berikut tujuh tempat di Dieng yang sudah terkenal karena keindahannya.
1. Telaga Warna
Daya tarik dari Telaga Warna
ini tentunya adalah warnanya. Sekali waktu Anda bisa melihat telaga ini
berwarna hijau, di waktu yang lain menjadi warna kuning, pink,
biru, dan warna-warna pelangi. Fenomena ini dapat terjadi karena air di
telaga ini memiliki kandungan sulfur (belerang) yang cukup tinggi. Saat
tertimpa cahaya matahari, air di Telaga Warna akan terlihat
berwarna-warni. Telaga Warna ini dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi
yang menambah pesona keindahannya. Waktu terbaik untuk mengunjungi
Telaga Warna adalah pagi hingga siang hari. Di sore hari, kabut kerap
kali turun sehingga menghalangi pemandangan indah Telaga Warna. Telaga
Warna berlokasi di Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
2. Bukit Sikunir
Bukit Sikunir adalah salah satu lokasi terbaik di dunia untuk melihat sunrise,
walaupun belum setenar Bromo. Para wisatawan dapat melakukan trekking
di jalan setapak yang cukup berbatu untuk mencapai puncak Bukit Sikunir.
Demi keamanan sebaiknya Anda menggunakan pemandu saat mendaki Bukit
Sikunir. Apalagi karena di sisi kiri jalan terdapat jurang yang cukup
dalam. Suhu udara yang berkisar 10 – 15 derajat Celcius juga menjadi
tantangan tersendiri. Namun segala perjuangan ini dijamin akan terbayar
saat kita menyaksikan langit yang kuning keemasan saat matahari terbit.
Waktu yang paling tepat untuk melihat matahari terbit di Bukit Sikunir
adalah pada musim kemarau sekitar bulan Juli-Agustus.
3. Kawah Sikidang
Konon, kawah ini memiliki hobi berpindah-pindah tempat. Kawah Sikidang
adalah adalah salah satu kawah vulkanik yang masih aktif hingga saat
ini. Hijaunya alam Dieng serta-merta lenyap saat Anda memasuki kawasan
Kawah Sikidang ini, berganti dengan hamparan tanah tandus. Pengunjung
harus berhati-hati saat mengunjungi Kawah Sikidang. Lubang bekas kawah
terdapat di mana-mana, di beberapa tempat tanahnya basah dengan air yang
bergolak mendidih. Tanah-tanah ini sangat berbahaya bila terinjak
karena kita bisa terperosok. Dan di ujung kompleks, sebuah kolam besar
dengan air yang bercampur lumpur abu-abu terus menggelegak dan
mengepulkan asap putih. Sebuah pagar bambu dibangun untuk menjadi
pengaman. Bau belerang tajam menyengat. Indah, namun berbahaya. Mungkin
itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Kawah Sikidang.
4. Sumur Jalatunda
Jangan bayangkan sumur bulat dari batu
dengan kerekan timba. Sumur yang terletak di esa Wisata Pekasiran,
Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara ini memiliki diameter 90 meter.
Diduga, Sumur Jalatunda merupakan sebuah kepundan yang
terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Kawah atau
kepundan ini lalu terisi air sehingga bentuknya menyerupai sumur. Untuk
menikmati pesona Sumur Jalatunda, pengunjung sebelumnya harus mendaki
257 anak tangga terlebih dahulu. Hal lain yang membuat Sumur Jalatunda
ini menarik adalah mitos bahwa bila kita berhasil melempar batu ke
sumur, maka permohonan kita akan terkabul. Namun batunya bukan sembarang
batu. Batunya haruslah batu kerikil beralas karung yang dijual oleh
anak-anak di sekitar lokasi sumur. Sedikit trik wisata untuk menarik
pengunjung, mungkin?
5. Bukit Teletubbies /Gunung Prau
Ingat Tinky Winky, Dipsy, Lala dan Po? Ingat bagaimana Teletubbies berlarian di bukit-bukit? Dieng memiliki Bukit Teletubbies di puncak Gunung Prau.
Gunung Prau merupakan puncak tertinggi di daerah Pegunungan Dieng
(2.500 mdpl) dengan keindahan yang luar biasa dibandingkan bukit-bukit
di sekitarnya. Lautan bunga-bunga liar semacam bunga aster tumbuh di
hamparan hijaunya bukit. Bukit-bukit kecil pun tersebar dari utara
hingga selatan. Bukit-bukit kecil inilah yang disebut sebagai Bukit
Teletubbies. Puncak Gunung Prau pun menjadi spot yang sangat menarik
untuk melihat sunrise ataupun sunset.
6. Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna
merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa. Candi Arjuna diperkirakan
dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa.
Kompleks Candi Arjuna
ditemukan kembali oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen
pada tahun 1814. Candi ini ditemukan dalam kondisi terendam di air
rawa-rawa. Proses pengeringannya baru dilakukan 40 tahun kemudian.
Candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan tokoh pewayangan oleh
penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna. Candi Arjuna ini
berhadapan dengan Candi Semar. Sedangkan di sebelah kiri Candi Arjuna
berjajar Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Salah satu
keunikan lainnya di Candi Arjuna ini adalah tanah berumput di
sekeliling candi terasa empuk dan membal. Rasanya seperti berjalan di
atas busa. Hal itu disebabkan kandungan air yang tinggi di tanah
sekeliling candi yang dulunya adalah rawa-rawa.
7. Telaga Menjer
Telaga Menjer memang
masih kalah pamor dibandingkan Telaga Warna. Namun Telaga Menjer
memiliki kecantikan yang sangat sayang bila kita lewatkan. Berada di
kaki pegunungan Dieng, Telaga Menjer juga menawarkan kedamaian pada
setiap pengunjungnya. Hawanya sejuk dan suasananya sunyi. Sesekali yang
terdengar hanyalah kicauan burung. Di Telaga Menjer kita dapat menaiki
perahu-perahu kecil sembari menikmati keindahan alam nan eksotis. Kita
juga dapat mencoba memancing. Telaga Menjer ini juga digunakan untuk
PLTA.
Klikers, itulah 7 pesona alam Dataran
Tinggi Dieng. Menyaksikan keindahan alam Dieng akan membuat Anda semakin
menyadari betapa indahnya bumi Indonesia ciptaan Tuhan kita. Karena itu
kita harus senantiasa menjaga kelestariannya. Mari menjelajah keindahan
alam Indonesia.
Sumber Air Hangat di Kalianget Wonosobo
Di daerah Wonosobo ada sumber mata air panas (atau hangat) yang muncul dengan debit air yang cukup besar, mengalir tidak tentu arah dan tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah (wah mubadzir). Akan tetapi menurut sumber sejak dibangunnya waduk wadaslintang tahun 1987, agar dapat menopang kepariwisataan waduk maka sejak tahu 1999 dan 2004 mata iar itu dibenahi dan dikelola dengan baik agar bermanfaat untuk pariwisata Wonosobo.
Berjarak 3 kilometer dari pusat kota itulah kawasan wisata Kalinaget Wonosobo. dengan kolam renangnya wisata Kalinaget menawarkan wisata pemandian air dingin maupun pemandian di kolam renang air hangat. selain itu ada ruang khusus (VIP katanya) untuk satu orang (satu ya...) dengan bak khusus untuk mandi. pengunjung diberi waktu kurang lebih satu jam untuk berada diruang tersebut.
selain itu taman rekreasi kalianget juga menyediakan sarana olahraga seperti lapangan tenis dan lapangan sepak bola, taman bermain dan kolam pemancingan agar pengunjung bisa rilek dan santai (rilek=santai :P). setelah capek-capek berolahraga kita bisa langsung berendam air hangat yang ada disana, maknyus.....
Ngomong-ngomong dari manakah sumber mata air panas itu berasal? saya yang asli orang Wonosobo belum pernah tau asal muasal sumber air panas tersebut. menurut saya mungkin sumber itu dari dataran tinggi dieng (kawah sikidang) yang muncul di Desa kalianget
Sumber gambar : google.co.id
Candi Sukuh
Sejarah
Candi
Sukuh, dilihat dari tahun pembuatannya, yaitu 1437 M, merupakan candi
Hindu termuda di Indonesia. Candi ini dibangun pada era kejatuhan
Majapahit yang didesak oleh bala tentara Islam Kesultanan Demak.
Situs candi yang dibangun oleh masyarakat Hindu
Tantrayana ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di
tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson
kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan
data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian pada tahun
1842, Van der Vlis, yang berkewarganegaraan Belanda, meneliti
sisa-sisa bangunan tersebut. Dilanjutkan pada tahun 1864 – 1867,
Hoepermans menulis tentang candi ini. Inventarisasi dilakukan oleh
Knebel pada 1910 dan pemugaran dilakukan tahun 1928.
Dilihat
dari struktur bangunannya, bisa dibilang Candi Sukuh menyalahi pola
dalam buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu, diterangkan
bahwa bentuk candi harus persegi dengan pusat persis di
tengah-tengahnya, dan yang di tengah itulah tempat yang paling suci.
Sedangkan ihwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu.
Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab ketika Candi
Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu telah memudar, dan mengalami pasang
surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi
yaitu kebudayaan prasejarah zaman Megalitik, sehingga budaya-budaya asli
bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada Candi
Sukuh ini. Ketiga teras pada Candi Sukuh terbagi oleh jalan setapak yang
terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka
ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada
di “bangunan suci” prasejarah zaman Megalitik.
Keistimewaan
Bentuk
Candi Sukuh yang berupa trapesium memang tak lazim seperti umumnya
candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku
Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Candi ini juga tergolong
kontroversial karena adanya objek-objek lingga dan yoni yang
melambangkan seksualitas. Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu
pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut. Hawanya sejuk dan pada
musim hujan, kabut tebal selalu menyelimuti kawasan candi yang alamnya
indah ini.
Candi Sukuh sering dikatakan sebagai
candi yang paling erotis di seluruh dunia, dikarenakan banyaknya patung
dan relief lingga dan yoni, baik secara simbolis maupun naturalis.
Seperti patung seorang lelaki tanpa kepala sedang melakukan onani, atau
sebuah pahatan berbentuk rahim perempuan dengan pahatan-pahatan relief
dua sisi (kiri dan kanan). Bagian kiri menggambarkan manusia yang lahir
dengan sifat dan perilaku baik, sedangkan bagian kanan sebaliknya.
Candi
Sukuh terdiri dari tiga teras yang masing-masing dibatasi pagar. Pada
teras pertama terdapat gapura berbentuk trapesium dengan pintu masuk di
tengahnya. Kepala raksasa menghiasi bagian atas pintu masuk. Pada
lantainya terdapat relief phallus dan vagina. Pada gapura ini ada sebuah
candrasangkala dalam Bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong.
Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “gapura sang raksasa memangsa
manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka
didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Di lantai dasar
gapura ini, terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan
vagina. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang
melambangkan Dewa Siwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan
lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja dipahat di lantai pintu masuk
dengan maksud agar bagi siapa saja yang melangkahi relief tersebut maka
segala kotoran yang melekat di badannya menjadi sirna sebab sudah
terkena “suwuk”.
Pada teras kedua, selepas pintu
gerbang terdapat batu berupa umpak dengan relief penunggang kuda dengan
payung kebesaran, empat sapi dan seseorang yang mengendarai gajah.
Masing-masing relief dipahatkan pada balok batu yang diletakkan di atas
pondasi batu. Gapura pada teras kedua sudah rusak dan tidak beratap.
Pada gapura tersebut terdapat candrasangkala berbunyi gajah wiku anahut
buntut, yang memiliki makna 8, 7, 3, 1 sehingga jika dibalik akan
didapatkan angka tahun 1378 Saka atau 1456 M. Jika bilangan ini benar,
maka ada selisih hampir dua puluh tahun dengan gapura di teras pertama.
Teras
ketiga berisi candi induk dengan pelataran besar dan beberapa relief di
sebelah kiri dan dua buah patung di sebelah kanan. Candi induk
menghadap ke barat dengan bentuk piramida terpancung. Di tengahnya ada
tangga menuju ke altar di atas. Dua buah patung yang terletak di sebelah
kanan adalah patung-patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita
pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab
Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda
terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian
Tirta Amerta, di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang
melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini
menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat
menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan
Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan
mencari Tirta Amerta.
Serangkaian relief di
bagian kiri depan candi induk diidentifikasi merupakan relief cerita
Kidung Sudhamala. Sudhamala adalah salah satu dari 5 ksatria Pandawa
atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudhamala, sebab Sadewa telah
berhasil “merawat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru
karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “merawat” Bethari Durga yang
semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni
kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari kayangan bernama
Bethari Uma.
Pada bagian kanan depan candi induk
terdapat bangunan kecil yang disebut Candi Pewara. Di sebelah kanan
Candi Pewara ada bangunan berbentuk kotak datar dengan semacam tugu di
pojok kanan belakang. Jika kita ingin menuju ke candi induk yang suci
ini, maka kita harus melewati batuan berundak yang relatif lebih tinggi
dari batu berundak sebelumnya. Selain itu lorongnya juga sempit. Tepat
di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang
kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat
bekas-bekas kemenyan, dupa, dan hio yang dibakar, sehingga terlihat
masih sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Dari
Candi Sukuh, kita juga bisa menikmati panorama Gunung Lawu yang
demikian indahnya. Bahkan dalam perjalanan turun dari Candi Sukuh, kita
akan melewati hamparan kebun teh yang hijau bergunung-gunung di daerah
Kemuning.
Lokasi dan Fasilitas
Candi
Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu yakni di Dukuh Berjo, Desa Sukuh,
Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta,
Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 km dari kota
Karanganyar, 36 km dari Surakarta, dan 65 km di sebelah timur laut
Kota Yogyakarta. Lokasi Candi Sukuh juga berdekatan dengan lokasi situs
Candi Cetho dan beberapa lokasi air terjun. Jumog, merupakan air terjun
yang paling dekat dengan Candi Sukuh. Selain itu ada juga air terjun
Parang Ijo kurang lebih 2 km dari pertigaan Nglorok. Jika masih belum
puas, kunjungilah air terjun di Tawangmangu yang lebih besar dan lebih
terkenal.
Fasilitas yang terdapat di kompleks
wisata Candi Sukuh ini bisa dikatakan masih minim. Di sekitar candi,
kita hanya akan menemukan warung kecil di mana kita bisa menikmati
minuman hangat, jajanan, dan makanan (nasi rames) dengan menu sederhana,
serta beberapa toko kelontong kecil yang menjual makanan dan minuman
kemasan. Sehingga disarankan untuk membawa uang cash, pulsa HP, dan
mengisi bahan bakar kendaraan dengan cukup sebelum menuju kawasan Candi
Sukuh. Mungkin kita juga perlu membawa bekal makanan dan minuman sendiri
jika kita menginginkan menu makanan dan minuman tertentu.
Dari
titik terakhir yang bisa dijangkau kendaraan roda empat (mobil/bis),
kita masih harus menempuh perjalanan sejauh 1,9 km untuk mencapai Candi
Sukuh. Kecuali jika kita membawa kendaraan roda dua (motor) sendiri,
akan lebih enak untuk menyewa ojek, dikarenakan jalannya yang sangat
menanjak. Namun jangan khawatir, kita tidak perlu repot-repot
bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan harga dengan tukang ojek. Di
sini terpampang jelas tarif resmi ojek ke berbagai tujuan. Untuk ke
Candi Sukuh cukup membayar Rp 5.000,-. Harga tiket untuk memasuki Candi
Sukuh adalah Rp. 2.500,- untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000, - untuk
orang asing.
Grojogan Sewu
Air terjun Grojogan Sewu terletak di
Tawangmangu suatu kawasan sebelah barat lereng gunung Lawu dengan
ketingggian 1.305 m, berudara segar banyak terdapat villa dan
penginapan. Tawangmangu dapat dicapai dari kota Solo dengan menggunakan
bus jurusan Solo - Tawangmangu.
Ada beberapa tempat wisata dan yang
sangat terkenal adalah air terjun Grojogan Sewu, di areal taman Grojogan
Sewu disini terdapat banyak kera dan kita dapat menikmati sate Kelinci.
Pemandangan yang indah dan udara yang sejuk
menjadikan tujuan utama bagi para pengunjung untuk berakhir
pekan bersama keluarga. Selain Grojogan Sewu dikawasan
Tawangmangu terdapat juga obyek wisata Balekambang, bumi
perkemahan, villa dan restaurant yang semua itu adalah sarana
dan fasilitas rekreasi keluarga yang benar-benar tak terlupakan.
Ditambah dengan adanya tradisi upacara Dukhutan, Mondosiyo,
Suryo Jawi menambah daya tarik tersendiri untuk diabadikan.
Menurut cerita wayang Prabu Baladewa
pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna untuk bertapa di
Grojogansewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan
perang, sebab kesaktiaannya tanpa ada musuh yang sanggup menandingiya.
Di depan air terjun grojogan sewu terdapat sebuah
jembatan yang disebut "kretek pegat". adapula yg menamai
jembatan "pegat sih". nama itu diberikan berdasrkan pengalaman
empirik, bahwa jembatan tersebut sering mengakibatkan pegatan
atau perceraian. Pada hari2 tertentu saat petang
datang sering terlihat seorang kakek melintas diantara kabut
yang menyelimuti kretek pegat. Mereka percaya bahwa kakek itu
adalah makhluk gaib andhahan (bawahan) penguasa lelembut di
Grojogan Sewu. yakni Kyai Baladewa.
Di Tawangmangu ada juga air terjun Pringgodani,
tempat bertapa Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima. Untuk menuju kesana
melewati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat pertapaan yang
juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan
ini dikeramatkan dan banyak pejiarah yang datang. Diatasnya terdapat
hutan Pringgosepi.
Candi Borobudur
- Prev
- 1 of 5
- Next
Sejarah
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Candi Borobudur?
Kemegahan, keindahan, serta keunikannya telah membuat Candi yang
dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 – 842 M ini dikukuhkan
menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan pada tahun 1991
ditetapkan oleh UNESCO di dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia (World Wonder Heritages).
Candi Borobudur pernah terkubur oleh lahar dingin
letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950 M dan baru
ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur
Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda
purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena
minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku
History of Java, 1817), maka Raffles segera memerintahkan H.C.
Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan
yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Pemugaran
pertama langsung dilakukan oleh Raffles, yaitu mulai menebangi
pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa
tersebut. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai
orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian
dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi
ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda dan terus dilanjutkan
setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah Republik Indonesia dengan
bantuan dari UNESCO. Seluruh proses pemugaran selesai pada tahun 1984.
Keistimewaan
Banyak
orang di seluruh dunia menjadikan Candi Borobudur sebagai tempat yang
wajib dikunjungi dalam hidupnya. Banyak teori yang berusaha menjelaskan
asal kata Borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan
berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa kata Borobudur berasal dari kata bara dan budur.
Bara/vihara artinya kompleks candi dan budur atau beduhur artinya di
atas atau bukit. Jadi, borobudur bisa diartikan sebagai kompleks candi
yang berada di atas bukit.
Luas
bangunan Candi Borobudur adalah 123 x 123 m dengan tinggi bangunan 34,5
m dan memiliki 1460 relief, 504 Arca Buddha, serta 72 stupa. Candi
Borobudur memiliki 10 tingkat (melambangkan sepuluh tingkatan Bodhisattva
yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha). 10
tingkat tersebut terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3
tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa utama sebagai
puncaknya.
Candi
Borobudur dibangun sebagai perlambang dari banyak tahapan di dalam
teori Budha. Jika dilihat dari atas, Candi Borobudur berbentuk mandala
(bentuk tradisional Budha). Mandala adalah pusat dari gabungan antara
seni Budha dan Hindu. Bentuk dasar dari banyak mandala Hindu dan Budha
adalah persegi dengan empat titik masuk dan titik pusat yang melingkar.
Baik dari segi eksterior maupun interior, Candi Borobudur melambangkan
tiga zona tingkat kesadaran ditambah satu bidang utama yang
menggambarkan kesempurnaan atau nirvana.
Zona pertama adalah Kamadhatu
atau dunia fenomena, dunia yang dihuni oleh kebanyakan orang, yang bisa
juga diartikan dengan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu
rendah". Tingkat paling bawah Candi Borobudur ini tertutup oleh pondasi
penyokong bangunan, sehingga tidak terlihat. Zona Kamadhatu yang
tersembunyi ini terdiri dari 160 relief yang menggambarkan kisah Karmawibhangga Sutra,
yaitu hukum sebab akibat. Relief-relief di sini menggambarkan hawa
nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan, penyiksaan, dan
penistaan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa tingkat dasar ini
ditambahkan pada bangunan asli candi ini. Alasan penambahan bagian ini
tidak 100 % pasti, namun sepertinya untuk stabilitas struktur bangunan
dan memperkuat pondasi bangunan atau bisa juga karena alasan religius,
yaitu untuk lebih banyak menutupi konten-konten cabul. Bagian tambahan
ini tingginya 3.6 m dan lebarnya 6.5 m. Sudut bagian bawah yang tertutup
ini telah dibuka secara permanen sehingga pengunjung dapat melihat
pondasi yang tersembunyi termasuk beberapa reliefnya.
Zona 2 Rupadhatu
atau dunia transisi, di mana manusia telah terbebas dari hal-hal
duniawi, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini
melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Teras persegi Rupadhatu
berisi galeri relief batu pahat, juga rangkaian ceruk yang berisi
patung Budha. Secara keseluruhan, terdapat 328 patung Budha di dalam
zona yang juga memiliki banyak relief dengan hiasan murni ini. Manuskrip
berbahasa Sansekerta digambarkan di dalam zona ini melalui 1300
reliefnya, yaitu Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Relief-relief tersebut berjejer sepanjang 2,5 km. Pada zona ini juga terdapat 1212 panel dekoratif.
Zona 3 Arupadhatu
atau dunia tertinggi, tempat tinggal para dewa. Tiga teras yang
melingkar ke arah pusat atau kubah stupa menggambarkan kenaikan ke dunia
atas. Teras-teras di sini memiliki ornamen yang lebih sedikit, dan
lebih mengutamakan kemurnian bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam atas,
di mana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk
dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan
di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan.
Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Total, ada 72
stupa seperti ini.
Tingkat paling
tinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang
terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar 40 km sebelah barat laut Jogjakarta, 7 km arah selatan Kota Magelang, dan 100 km sebelah barat daya Semarang. Kompleks wisata Candi Borobudur menyediakan fasilitas dan akomodasi yang cukup lengkap, seperti hotel/penginapan, restoran/rumah makan, toko-toko cinderamata yang sangat komplit, pom bensin, dan sarana komunikasi, seperti wartel dan warnet. Di sekitar Candi Borobudur, juga banyak andong (sejenis kereta kuda) yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks candi. Sedangkan di dalam kompleks candi, juga terdapat kereta bermesin jika kita capek atau malas berjalan sampai ke bangunan candi. Di dalam kompleks Candi Borobudur juga terdapat museum-museum yang sangat menarik untuk dikunjungi.
PANTAI KARTINI JEPARA
Jam delapan kami memasuki kota Jepara. Lalulintas tak begitu ramai. Mungkin karena hari libur. Tapi itu justru mengasyikkan sekali. Apalagi saat melewati kota. Pemandangan indah terhampar di depan mata. Tata kota yang cantik, etalase toko penuh furniture indah, dan jajaran pohon palem disepanjang kiri dan kanan jalan, mengingatkanku pada film-film yang bersetting daerah Beverly Hills California. Indah sekali. Jauh banget sama kotaku yang semrawut.
Membandingkan kota Demak dengan Jepara seperti membandingkan bumi dengan langit. Jauh sekali. Kota Demak dengan masyarakat agrarisnya dan kota Jepara dengan semarak industri kerajinan di mana-mana. Ingin juga punya kota seperti itu.
Dalam perjalanan menuju pantai kami sempat berhenti di pasar Ngabul. Kami berhenti untuk membeli sandal karet, karena tadi anak laki-lakiku ternyata mencomot sandal kulitnya. Lupa dia kalau mau nyebur ke laut. Pasar kota Ngabul lumayan ramai. Pasar yang terkenal dengan buah duriannya itu tampak sibuk dengan kegiatannya. Sayang saat ini sedang tidak musim durian. Jadi tak begitu banyak buah durian dipasaran. Kalaupun ada hanya beberapa pedagang yang berjualan. Dan harganya jadi mahal.
Tak berapa lama kami sampai di pintu gerbang daerah pariwisata Pantai Kartini. Setelah membeli tiket seharga Rp. 7.500,- per orang kami langsung menuju ke pantai. Hari Minggu ini tiket lumayan mahal karena ada pentas musik dangdut. Padahal biasanya tiket masuk hanya Rp.2.500,- per orang.
Dari jauh laut menghampar luas dengan perahu-perahu wisata yang berlalu lalang. Juga gedung kura-kura raksasa yang ada di tepi pantai. Anak-anak langsung heboh melihat patung kura-kura sebesar itu. Di dalam gedung kura-kura itu terdapat museum kelautan. Sayang saat itu sedang tidak dibuka. Jadi kami tidak bisa menonton ada apa dalam gedung kura-kura sebesar itu. Selain itu ai pantai Kartini aneka permainan banyak disajikan. Ada kereta mini, flying fox, motor trek, komidi putar, dan masih banyak lagi. Dan yang tak kalah mengasyikkan adalah wisata bahari. Dengan tiket seharga Rp. 5.000,- kita bisa naik perahu pergi pulang menuju pulau panjang yang tak jauh dari pantai. Pulau dengan pantai pasir putihnya yang eksotik tampak menggugah mata. Demikian juga biota laut dan aneka burung-burung yang menghuni pulau panjang. Sungguh wisata pantai yang menggiurkan.
Tak kalah dari itu pasar seni Pantai Kartini juga ramai. Banyak barang dagangan dan suvenir dijajakan. Sebagian besar terbuat dari kerang dan hasil laut lainnya. Tak ayal aku langsung menyerbu pedagang bros. dapat harga murah banget. Untuk bros kura-kura ditjual dengan harga 2500 rupiah. Padahal beli di Demak harganya nyampe 6000 rupiah lho. Jadinya beli lumayan banyak, buat dibagi-bagi sama teman-teman. Selain aneka suvenir, ada juga pakaian dan ikan asin.
Hanya sayang nih bagi yang hobi berenang di laut nggak bakalan puas. Karena pantai yang berbatu-batu tentu saja kurang asyik kalau dibuat berenang. Tapi air di Pantai Kartini lumayan bening dan bersih. Walaupun begitu banyak juga yang nekad turun ke laut. Kami juga sempat turun ke laut. Anak-anak tampak gembira saat hempasan ombak menerpa kaki-kaki mereka. Apalagi saat mereka menemukan anak-anak bintang laut. Benar-benar heboh. Sementara itu dari kejauhan tampak perahu-perahu berlayar hilir mudik membawa wisatawan ke pulau panjang. tiket untuk naik perahu ke pulau panjang sebesar 5000 rupiah per orang.
Puas bermain air di bibir pantai, kamipun duduk-duduk di dermaga menikmati pemandangan.Menjelang tengah hari kami meninggalkan Pantai Kartini dengan berjuta kenangan. Siap menyambut hari baru. See you, soo
Masjid Agung Demak
Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Ibu Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika Majapahit melemah dan terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. Berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.
A. SEJARAH MASJID DEMAK
Menurut legenda, masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama-sama dalam tempo satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1399 Saka (1477 M) yang ditandai oleh candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”, sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun 1401 Saka yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479 M. Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521 M) pada tahun 1520.
Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat antakusuma, yaitu sebuah bungkusan yang konon berisi baju hadiah dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu. Memasuki pertengahan abad XVII, ketika kerajaan Mataram berdiri, pemberontakan pun juga mewarnai perjalanan sejarah kekuasaan raja Mataram waktu itu.
Sejarah yang sama juga melanda kerajaan Demak. Kekuasaan baru yang berasal dari masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam disekitar tahun 1500 bernama Raden Patah dan berkedudukan di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain yang telah Islam (seperti Gresik, Tuban dan Jepara), ia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Demak. Namun keberadaan kerajaan Demak tak pernah sepi dari rongrongan pemberontakan. Dimasa pemerintahan raja Trenggono, walau berhasil menaklukkan Mataram dan Singasari. Tapi perlawanan perang dan pemberontakan tetap terjadi di beberapa daerah yang memiliki basis kuat keyakinan Hindu. Sehingga daerah Pasuruan serta Panarukan dapat bertahan dan Blambangan tetap menjadi bagian dari Bali yang tetap Hindu. Pada tahun 1548 M, raja Trenggono wafat akibat perang dengan Pasuruan.
Kematian Trenggono menimbulkan perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya bernama pangeran Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549 M). Sang adik berjuluk pangeran Seda Lepen terbunuh di tepi sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang. Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai orang, sehingga timbul pemberontakan dan kekacauan yang datangnya dari kadipaten-kadipaten. Apalagi ketika adipati Japara yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari adipati japara berjuluk Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya melakukan pemberontakan dalam bentuk gerakan melawan Arya Panangsang. Salah satu dari adipati yang memberontak itu bernama Hadiwijoyo berjuluk Jaka Tingkir, yaitu putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono yang masih ada hubungan darah dengan sang raja. Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil membunuh Arya Penangsang. Dan oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja pertama di Pajang. Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak.
B. KEISTIMEWAAN MASJID AGUNG DEMAK
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.
Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466 M. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477 M, masjid ini dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478 M, ketika Raden Patah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di sebelah barat daya.
Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Masjid ini memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna, yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar-Nya.
Bentuk bangunan masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah. Dan ada satu keistimewahan satu buah tiang yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal). Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreatifitas masyarakat pada saat itu.
Disamping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu, seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.
Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung dan alun-alun.
C. LETAK DAN STRUKTUR BANGUNAN MASJID AGUNG DEMAK
Masjid Agung Demaki terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak ±26 km dari Kota Semarang, ±25 km dari Kabupaten Kudus, dan ±35 km dari Kabupaten Jepara. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.
Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa. Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah. Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat "Pintu Bledeg", bertuliskan "Condro Sengkolo", yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H
Wisata Kopeng
Wisata Kopeng adalah nama sebuah desa yang terletak di kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah, sekitar 15 km dari kota Salatiga. Terletak di ketinggian 1.450 m dari permukan laut. Diapit oleh gunung Telomoyo, Andong dan Merbabu. Menyajikan panorama yang memikat dalam nuansa alam pedesaan dipadu dengan keindahan hamparan tanaman bunga dan sayuran membentuk suasana asri nan menyejukkan.
Wisata Kopeng Salatiga
Wana wisata Kopeng memiliki beberapa lokasi ideal yang bisa digunakan sebagai rekreasi keluarga, perkemahan, outbond dan acara rapat serta seminar pada institusi.
Untuk menuju Kopeng dari Semarang, Anda bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat ke arah Kopeng. Kondisi jalannya beraspal mulus, hati-hati jangan mengendarai terlalu cepat, karena luas jalannya hanya cukup untuk dua mobil.
Di lokasi wisata Kopeng terdapat air terjun Umbul Songo, yang berarti sembilan mata air. Jika Anda masuk ke lokasi Umbul Songo ini akan tercium semerbak udara pegunungan yang bersih dan harum bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi wisata.
Di Kopeng terdapat banyak villa-villa yang dilengkapi fasilitas TV dan air Panas, ruang pertemuan, ruang makan, bahkan dapur. Sehingga Anda dapat memasak sendiri apabila diinginkan. Serasa seperti di rumah sendiri disertai halaman parkir yang cukup luas. Anda dapat leluasa menikmati hari-hari libur dan rekreasi.
Bagi Anda yang suka pada pendakian gunung, Anda bisa mengunjungi Wana Wisata Kopeng. Dan melihat gunung Merbabu dengan diterawangi oleh sinar matahari sore hari. jadinya puncak gunung seperti berkilauan. Belum lagi udaranya yang segar
Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dan kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.
Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis turun dari atas gunung sering muncul mengakibatkan mata tidak dapat memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin.
Untuk menuju ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik. Anda bisa memanfaatkan jasa transportasi kuda untuk berwisata mengelilingi obyek wisata Candi Gedongsongo. Tahun 1740, Loten menemukan kompleks Candi Gedong Songo. Tahun 1804, Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Van Braam membuat publikasi pada tahun 1925, Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo pada tahun 1865. Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadapt kompleks candi dan Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911.
Disela-sela antara Candi Gedong III dengan Gedong IV terdapat sebuah kepunden gunung sebagai sumber air panas dengan kandungan belerang cukup tinggi. Para wisatawan dapat mandi dan menghangatkan tubuh disebuah pemandian yang dibangun di dekat kepunden tersebut. Bau belerangnya cukup kuat dan kepulan asapnya lumayan tebal ketika mendekati sumber air panas tersebut. Karena keindahannya Candi Gedong Songo ini sering menjadi tempat yang indah untuk foto foto Pre Wedding.
Untuk menuju Candi Gedong Songo diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam. Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.
- Ungaran – Gedong Songo : 25 km
- Ambarawa – Gedong Songo : 15 km
- Semarang – Gedong Songo : 45 km
Rawa Pening
Rekreasi Keluarga | Taman Wisata Rawa Pening Kab Semarang
Rawa Pening adalah danau sekaligus tempat wisata air dengan luas 2.670 hektare yang menempati wilayah Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Rawa Pening ini berada di cekungan terendah lereng Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, dan Gunung Ungaran. Daya tarik yang ada di Rawa Pening: Wisata Tirta: dengan perahu tradisional, Penghasil enceng gondok sebagai bahan kerajinan, area pemancingan alam, Sumber mata pencaharian nelayan dan petani ikan, Obyek fotografi yang sangat mempesona.
Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Di tengah tengahnya banyak sekali tumbuh enceng gondok yang hampir menutupi seluruh permukaannya sebagian menjadi tempat mencari ikan. Gulma ini juga sudah menutupi Sungai Tuntang, terutama di bagian hulu. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam kerajinan, namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi. Saat menyewa perahu motor ke tengah rawa terasa sekali aura mistis dan misteriusnya, namun sayang segala potensi yang ada kurang bisa tergali karena pengelolaan yang terkesan seadanya. Untuk bisa ke tengah rawa pening ini bisa menyewa perahu motor dengan tarif 30 ribu rupiah untuk 30 menit max 6 orang. Rawa Pening juga merupakan salah satu tempat yang indah untuk foto foto Pre Wedding.
Langganan:
Postingan (Atom)