Rabu, 15 Oktober 2014

Bleduk Kuwu

Mungkin semua tahu kalau kubah lumpur hanya ada di Lapindo Sidoarjo. Sebenarnya selain lapindo ada kubah lumpur yang telah ada ratusan tahun yang lalu. Terletak di Desa Kuwu Kecamatan Kradeanan 28 km dari Kota Purwodadi Grobogan menuju ke Kota Blora Jawa tengah, Bledug Kuwu menyimpan legenda yang penuh misteri dan menyimpan kekayaan alam bagi warga sekitar.
Obyek Wisata
Bledug kuwu adalah obyek wisata dengan luas sekitar 45 hektar. Kawasan tanah lumpur yang lumpur bledug kuwu grobogan jawa tengahdisertai dengan letupan-letupan yang bervariasi antara 1 meter hingga 10 meter tingginya. Letupan-letupan ini bukan berasal dari magma bumi atau effect dari kwah vulkanik. Karena letupan di kuwu ini tidak terasa panas, kalaupun panas itu hanya dari sengatan matahari. Dugaan peristiwa ini adalah proses kimiawi dari gas bumi dan air laut, ini dibuktikan air disekitar letupan-letupan lumpur mengandung garam. Padahal letaknya sendiri jauh dari laut.
Nama Bledug Kuwu diambil dari kata Bledug dan Kuwu. Bledug yang berasal dari bahasa jawa memiliki arti letupan, karena setiap kali meletup mengeluarkan bunyi “Bledug”. Sedangkan Kuwu sendiri adalapintu masuk bledug kuwu grobogan jawa tengahh nama desa tempat kawah lumpur tersebut berada. Ada beberapa kawah di Bledug Kuwu. Kawah yang terbesar dinamakan Kwah Jaka Tuwa yang berada di sisi sebelah timur dan kawah yang terkecil dinamakan Kawah Rara Denok yang terletak disisi barat.
Singkat cerita konon keanehan itu disebabkan ada lubang yang menghubungkan kuwu dengan laut selatan. Lubang tersebut terjadi dari perjalanan pulang Joko Linglung dai laut selatan menuju Kerajaan Medang Kamolan, setelah melaksanakan tugasnya untuk menangani Prabu Dewata Cengkar Raja Kerajaan Medang Kamolan sebelum Aji Saka yang telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Hal itu dilakukan Joko Linglung yang berwujud ular naga sebagai syarat agar Joko linglung diakui sebagai anaknya Aji Saka Raja Kerajaan Medang kamolan.
Adanya kandungan garam di airnya, masyarakat setempat memanfaatkannya menjadikanpetani garam bledug kuwu grobogan jawa tengah garam dengan cara tradisional dengan cara mengeringkan di bilah-bilah bambu. Hasil dari pengolahan air Bledug Kuwu lebih putih, lebih halus dan lebih gurih dibanding dengan garam hasil air laut biasanya. Konon garam dari bledug Kuwu digunakan untuk bumbu semua makanan yang disajikan di Keraton Kasunanan Surakarta. Dan di percaya lumpur Bledug Kuwu bila digunakan sebagai lulur akan bermanfaat sebagai pencegah penyakit kulit dan menghaluskan kulit. Apabila anda menginginkan untuk membawa pulang, disekitar obyek wisata banyak dijual lumpur serta air dari Bledug Kuwu yang dikemas dalam botol-botol bekas air mineral.
Lokasi
Bledug Kuwu berlokasi di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Indonesia.
Akses
Untuk menempuh perjalanan ke Bledug Kuwu anda hanya dapat menggunakan jalur darat. Akan lebih praktis apabila menggunakan kendaraan pribadi, karena tidak banyak angkutan umum yang menuju atau dari sana. Diawali dari Semarang anda harus melewati kota purwodadi dahulu setelah itu menuju ke Bledug Kuwu dengan arah Purwodadi-Blora.
Akomodasi
Karena berada jauh dari perkotaan, di area Bledug Kuwu masih jarang di temui penginapan ataupun hotel. Apabila akan menginap, disarankan untuk menginap di Kota Purwodadi sembari merasakan kelezatan Swike yang menjadi andalan kuliner khas Kota Purwodadi.

Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu


Wallpaper Kelenteng Sam Poo Kong Semarang
Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong Semarang
Kelenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.
Sam_Poo_Kong_Semarang
Bangunan_baru_sisi_timur
Pengunjung_Sam_Poo_Kong_gedung_Batu
Hampir di keseluruhan bangunan bernuansa merah khas bangunan China. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Air Mancur di Sam poo kong
Pintu masuk Sam Poo Kong
Sam Poo Kong atau dikenal juga sebagai Kelenteng Gedung Batu
Seperti umumnya bangunan kelenteng, Kuil Sam Poo Kong yang terletak di Simongan, Semarang, ini juga didominasi warna merah. Sejumlah lampion merah tidak saja menghiasi kelentengnya, tetapi juga pohon pohon menuju pintu masuk.
Bangunan inti dari kelenteng adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho.
Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.
Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.
Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.
Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.
Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari dan pintu masuknya dijaga oleh petugas keamanan. Hanya yang bermaksud sembahyang saja yang diijinkan masuk sedangkan wisatawan yang ingin melihat lihat bisa melakukan dari balik pagar.
Sejak Renovasi besar besaran tahun 2002 dan selesai 2005, yang menelah biaya 20 miliar, Sam Poo Kong menarik perhatian lebih banyak orang untuk berkunjung. Di halaman yang cukup luas di depan kelenteng, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho, yang cukup menarik untuk dinikmati. Di sinilah atraksi atraksi kesenian berupa tari tarian, barongsai atau bentuk kesenian lain digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China.
Di bulan Agustus misalnya, selalu diadakan festival mengenang datangnya Cheng Ho ke Semarang. Untuk bulan Agustus 2009, festival diadakan tanggal 18 memperingati HUT ke604 kedatangan Cheng Ho.
Perayaan disertai dengan arak-arakan, bazaar, dan festival Barongsai. Hari hari besar lainnya yang dirayakan di sini termasuk di antaranya Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Kedatangan turis asing, terutama dari China, menunjukkan bahwa Sam Poo Kong dikenal luas di dunia. Berdasarkan uang sedekah yang ditinggalkan pengunjung, Kuil Gedung Batu ini juga sering dikunjungi turis turis asing dari Amerika, Rusia, Brazil dan negara negara lain.
Laksamana Cheng Ho yang keturunan Persia dan beragama Islam, membuat tempat ini juga banyak dikunjungi oleh mereka yang beragama Islam, termasuk para turis yang datang dari China.

Pantai Marina Semarang



Pantai Marina Senja Kala
Pantai Marina merupakan salah satu taman rekreasi pantai di Kota Semarang, bersebelahan dengan arena PRPP dan Mareokoco, setelah perumahan Puri Anjasmoro Semarang, Kecamatan Semarang utara. Di pantai ini, pengunjung bisa naik perahu keliling pantai, memancing atau sekedar sekedar santai beristirahat sambil menikmati keindahan pantai dan deburan ombak. Di sisi utara agak ke timur, air lautnya sedikit kecoklatan saat musim hujan, karena di sisi timur pantai ini bermuaranya sungai banjir kanal barat.
yang pengin muter muter dengan perahu
Photo Gallery Pantai Marina:

Sebenarnya selain Pantai Marina, ada juga pantai Tirang dan Pantai Maron yang air lautnya relatif lebih jernih, namun jalan menuju lokasi kurang memadai.

Simpanglima Semarang



hijaunya rumput simpang lima semarang
Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang.
Simpanglima merupakan salah satu landmark kota Semarang. Lapangan ini disebut juga Lapangan Pancasila. Saat ini (Mei2011) Lapangan Pancasila, Simpanglima, dalam tahap rehabilitasi berupa pengurukan dan pemasangan alat resapan air untuk perbaikan lapangan yang berada di pusat Kota Semarang ini.
Kedepan, Pemerintah Kota Semarang tidak akan mengijinkan Lapangan Pancasila Simpanglima ini untuk kegiatan komersial termasuk konser musik. Lapangan Simpanglima hanya untuk kegiatan selektif, seperti upacara kenegaraan dan acara keagamaan,” kata Wali Kota Semarang Soemarmo Menegaskan.

Foto Simpanglima Semarang Senja Kala
Bermain Sepatu Roda di Simpang Lima

Lawang Sewu Semarang



lawang sewu semarang
Semarang - Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.
Foto Gallery Lawang Sewu Semarang:
Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.
Lawang Sewu Pasca Pemugaran:
Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk produk tradisional dari seluruh Nusantara. Berikut foto foto Lawang Sewu pasca pemugaran:
Lawang Sewu Pasca Restorasi
Sisi kanan Lawang Sewu
sisi belakang lawang sewu
seribu pintu lawang sewu
halaman depan lawang sewu
Video Lawang Sewu:
Peta Lokasi Lawang Sewu:

View Peta Wisata Semarang in a larger map
Mei 2013:
halaman lawang sewu
Taman di sisi kanan lawang sewu
Harga Tiket dan Jam Buka
Berapakan sebenarnya jumlah pintu dari Lawang Sewu?
Seperti Kepulauan Seribu yang jumlah pulau yang sebenarnya tak sampai 1.000, karena tercatat hanya 342 buah bulau saja. Sebutan “Sewu” [Jawa: Seribu], merupakan penggambaran sedemikian banyaknya jumlah pintunya. Menurut guide lawang sewu, jumlah lubang pintunya terhitung sebanyak 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 (sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian dengan menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun [dengan engsel], ditambah 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser).
Sejarah Lawang Sewu:
Sejarah gedung ini tak lepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) yaitu kantor pusat NIS, perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertamanya Jalur Semarang Temanggung 1867.
Awalnya administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg Semarang. Direksi NOS menyerahkan perencanaan gedung ini kepada Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Ouendag, arsitek dari Amsterdam Belanda.
Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918.
Pada tahun 1873 rel kereta api pertama di Hindia Belanda selesai dibangun. Jalan itu dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS), suatu perusahaan swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan daerah pertanian yang subur di Jawa Tengah dengan kota pelabuhan Semarang (Durrant, 1972). Stasiun di Semarang yang berada di tambaksari tidak jauh dari pelabuhan.
Pada peralihan abad ke-20 NIS membangun stasiun stasiun baru yang besar. Pada tahun 1914 stasiun Tambaksari digantikan oleh Stasiun Tawang. Sebelumnya pada tahun 1908 selesai dibangun pula kantor pusat NIS yang baru, bangunan itu berada di ujung jalan Bodjong, di Wilhelmina Plein berseberangan dengan kediaman gubernur.
Kantor pusat NIS yang baru itu adalah bangunan besar 2 lantai berbentuk “L” yang dirancang oleh J.F Klinkhamer dan Ouendag dalam gaya Renaissance Revival (Sudrajat,1991). Menurut Sudrajat pembangunan kantor pusat NIS di Semarang adalah tipikal 2 dasawarsa awal abad 20 ketika diperkenalkan politik etis, ketika itu “… Muncul kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan bangunan bangunan publik dan perumahan, akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta”.
Penduduk Semarang memberinya nama “Lawang Sewu” (pintu seribu), mengacu pada pintu pintunya yang sangat banyak, yan gmerupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.
Pada saat yang bersamaan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berusaha mengambil alih kereta api, pertempuran pecah antara pemuda dan tentara Jepang, belasan pemuda terbunuh di gedung ini, 5 diantara mereka dimakamkan di halaman (tetapi pada tahun 1975 jenazah mereka dipindah ke Taman Makam Pahlawan). Di depan Lawang Sewu berdiri monumen untuk memperingati mereka yang gugur di Pertempuran Lima Hari.
Sesaat setelah kemerdekaan Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api, kemudian militer mengambil alih gedung ini, tetapi sekarang telah kembali ke tangan PT KAI.
Web Desain Semarang Daftar Kategori Gedung Kuno, Wisata
Hashtag: , , , , ,

71 Responses to “Lawang Sewu Semarang”

Adi Kristanto says: