Tampilkan postingan dengan label JABAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JABAR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

Taman Buah Mekarsari

Taman Buah Mekarsari menjadi salah satu ikon wisata favorit di wilayah Bogor. Taman rekreasi Mekarsari bisa menjadi solusi bagi anda yang hobi jalan-jalan namun kehabisan idem au ke mana. Apalagi bagi anda yang sibuk bekerja di tengah kota besar, pikaran anda perlu direset supaya lebih segar. Tak perlu jauh dan mahal, Taman Buah Mekarsari yang ada di Bogor bisa menjadi pilihan wisata unggulan bagi warga Jabodetabek.
Nama Mekarsari di Bogor memang tidak setenar kebun raya Bogor dikarenakan dua hal. Kebun raya Bogor telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dan lokasinya di pusat kota sehingga mudah diakses oleh wisatawan. Adapun Mekarsari, lokasinya tergolong masih relative di pedalaman tepatnya di kabupaten Bogor, jalan Cilengsi-Jonggol km.3
Taman Buah Mekarsari diresmikan sebagai tempat wisata kepada umum pada tahun 1995. Awalnya, Mekarsari dirancang sebagai taman buah dan wahana pendidikan. Di taman Mekarsari yang hanya sebagai taman buah, anda bisa menikmati berbagai macam buah dengan bebas selama masih di dalam area taman buah.
Sekarang, Mekarsari telah berbenah menjadi wahana wisata modern dengan aneka ragam pilihan wahana. Mekarsari memiliki luas 264 hektar, oleh karenanya meski ada tambahan wahana wisata lain tetap taman buah masih menjadi ikon wisata utama Mekarsari.
Taman Buah Mekarsari  berfungsi juga sebagai pusat konservasi aneka macam buah dan sayuran dari berbagai penjuru nusantara. Terdapat pula laboratorium untuk mengembangkan media tanam tumbuhan. Sebagian tanaman yang ada di taman buah mekarsari adalah hasil kreasi laboratorium seperti nangkadak, nanas arnis, cempeka, dan masih banyak buah lainnya.
Taman Buah Mekarsari sebagai tempat pelestarian (konservasi), pembibitan, tabulampot, dan agronomi memiliki koleksi tanaman dengan banyak spesies serta varietas. Ada juga tumbuhan langka di taman buah mekarsari seperi sawo kecik, kesemek, bunga bangkai, dan lain sebagainya.

Tiket Masuk Mekarsari

Taman buah mekarsari sebagai wahana wisata dan edukasi tidak mematok harga mahal, cukup dengan membayar Rp 10.000,- per orang untuk bisa masuk ke area Mekarsari. Gerbang dan lokasi jaraknya lumayan jauh sekitar 400 meter. Namun dengan naungan pohon markisa di kanan kiri membuat jalan kaki terasa nyaman dan terlindung dari sengatan sinar matahari.
Selepas gerbang, anda akan menemui kereta wisata yang siap mengantar mengelilingi menikmati pemandangan aneka ragam tanaman buah di mekarsari. Aneka tumbuhan tropis yang bisa ditemui antara lain belimbing, rambutan, salak, jeruk, nangka, melon yang ditanam di rumah plastic dan lain sebagainya.
Pemandangan lain dari kereta wisata ini adalah pengalaman seru melintasi danau seluas 20 hektar. Danau di mekarsari menyediakan aneka wahana wisata air seperti sepeda air, banana boat, pemancingan, dan lain sebagainya. Namun untuk menikmati berbagai macam wahana ini anda masih harus membayar lagi J. Jika tak cukup uang untuk menikmati semua wahana yang ada, duduk santai sambil menyantap makan siang di sekitar taman buah tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi anda sekeluarga. Dan jika lupa mebawa tikar, di mekarsari sudah ada yang menyewakan.

Water Kingdom Mekarsari

Water Kingdom di Mekarsari adalah satu ikon unggulan selain taman buahnya. Wahana wisata air raksasa ini luasnya sekitar 5,2 hektar yang langsung terhubung ke danau. Water Kingdom mampu menampung 15.000 pengunjung. Untuk menikmati serunya water kingdom, anda cukup membayar Rp 50.000,- di hari biasa dan Rp 95.000,- di akhir pekan dan libur nasional.
Water Kingdom Mekarsari adalah wahana wisata air terbesar di Asia. Tak hanya terbesar, masih banyak wahana atraktif yang siap menguji nyali anda seperti Boomerang slide papan luncur sepanjang 118 meter dengan ketinggian menara sekitar 16 meter, ini adalah yang pertama di pulau Jawa. Ada lagi Lazy River, kolam arus sepanjang 600 meter, menjadi yang terpanjang di Indonesia. Di Lazy River, anda bisa dengan santai mengalir mengikuti arus sungainya.

Outbound di Mekarsari

Outboeund menjadi pilihan beberapa orang yang terkadang jenuh dengan rutinitas bekerja di perkotaan. Selain untuk wisata, outbound seringkali dilaksanakan untuk melatih keterampilan, kemandirian, dan kerjasama tim. Mekarsari menyediakan fasilitas outbound dengan anek macam variasinya.
Sabut Kelapa Outbound Taman Wisata Mekarsari (SKO-TWM) adalah satu retails program yang ada di Mekarsari. SKO-T WM menghadirkan Susana belajar sambil belajar sehingga cocok untuk kebersamaan baik itu dengan rekan kerja ataupun keluarga. SKO-TWM menggunakan metoda experiental learning melalui simulasi permainan dengan suasana menyenangkan serta menghibur untuk memacu kreativitas, kemandirian, kerjasama tim, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
Mengalahkan setiap rintangan di SKO-TWM memerlukan keberanian yang besar. Jika setiap rintangan mampu ditaklukkan, pada puncaknya adrenalin anda akan dipacu dengan berayun ala flying fox dari puncak menara yang tinggi.
Permainan outbound lain di mekarsari adalah Paintball. Permainan ini untuk melatih kerjasama tim dengan simulasi mengalahkan musuh. Permainan tembak-tembakan ini sudah dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan dan berlokasi di perkebunan.
 Ada lagi program Family Gathering dan Employee Gathering, yaitu program yang dirancang untuk menciptakan momen kebersamaan bagi karyawan maupun keluarga. Gathering di taman buah mekasrsari menjadi sarana refreshing yang menghibur untuk mengusir kejenuhan rutinitas kerja. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan akan bertambah hangat dengan gathering di Mekarsari.

Panen Buah di Mekarsari

Pada saat panen buah, anda bisa ikut memanen dan menimbangnya untuk dibawa pulang, setelah membayarnya tentu J. Pengalaman ini pastilah seru bagi anda masyarakat perkotaan karena bisa memperoleh langsung buah segar dari pohonnya. Apalagi dengan berbagai macam jenis buah.
Ada pula tempat pembelajaran bagi anak-anak, yaitu Kids Farmer. Minimal empat orang anak, pada hari Selasa-Jum’at, anak-anak bisa belajar menanam pohon. Biayanya sekitar Rp 37.000,- per anak. Untuk dewasa yang tidak malu, bisa saja ikut belajr menanam pohon.
Selengkapnya tentang Mekarsari dan Water Kingdom, anda bisa mengunjungi website www[.]mekarsari[.]com dan www[.]waterkingdom[.]co[.]id.
Taman Buah Mekarsari dibuka untuk wisata pada hari Selasa-Ahad jam 09.00-16.00. Khusus di hari Ahad, tidak jarang yang ke Mekarsari hanya untuk jogging atau jalan-jalan. Tidak saying jika anda sengaja meluangkan waktu untuk bisa jalan-jalan ke Taman Buah Mekarsari.

Pantai Pangandaran


Pantai Pangandaran
Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti:
• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama
• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman
• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih
• Tersedia tim penyelamat wisata pantai
• Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai
• Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski dan lain-lain.
Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.

Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulan Juni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia:
1. Lapang parkir yang cukup luas,
2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif bervariasi,
3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,
4. Gedung bioskop, diskotik
5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,
6. Bumi perkemahan,
7. Sepeda dan ban renang sewaan,
8. Parasailing dan jetski.

Pantai Pelabuhan Ratu


Cukup lelah perjalanan di lebaran hari kedua dengan rute Giri Jaya-Cidahu, kupikir saatnya mencharge tenaga di hari ketiga ini. Tapi ternyata, kenyataan berkata lain. Sore hari, (21/8/2012)  sekitar pukul 17.00  WIB kami berangkat ke pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat dan memutuskan untuk menginap semalam di sana.
Pantai pelabuhan Ratu mungkin dikenal oleh sebagian orang adalah pantai yang mistis sekaligus penuh pesona. Mistis karena terkenalnya Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang suka warna Hijau. Ada salah satu hotel di Pantai Pelabuhan Ratu, Samudera Beach Hotel, menyediakan khusus satu kamar untuk Ratu pantai Selatan tersebut. Bahkan, karena kemistikannya itu, banyak yang “mengamankan diri” dengan tidak menggunakan pakaian berwarna hijau di sana. Hal itu dikarenakan warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Sehingga orang yang menggunakan baju hijau akan tertarik ke laut dan hilang. Percaya?
Terlepas dengan cerita mistisnya, Pantai Pelabuhan Ratu adalah pantai yang patut kita kunjungi. Ada dua jalan yang bisa kita lewati apabila mau ke pantai ini. Lewat jalur alternatif Palimanan-Cikidang keluar di Citepus sudah langsung Pelabuhan Ratu atau lewat jalan biasa yang ke Pelabuhan Ratu.
Kalau lewat jalur alternatif memang lebih cepat tetapi tracknya berkelok-kelok 70 derajat. Pemandangan yang disuguhkan pun adalah pemandangan pegunungan dengan perkebunan teh dan kelapa sawit. Semakin mendekati pantai pelabuhan, akan disuguhkan hutan lindung. Sejuk dan menyegarkan mata. bahkan ada beberapa mobil yang sengaja berhenti untuk sekedar menikmati pemandangan atau gelar tikar makan siang di situ. Saran dariku jangan melewati jalur ini kalau belum mahir menyetir dan pada malam hari, karena butuh ketelitian dan konsentrasi tinggi.
Kalau jalan biasa ke Pelabuhan Ratu memang lebih ramai. Tracknya pun tidak sesulit jalur Palimanan-Cikidang. Akan tetapi wantu tempuhnya lebih panjang dari jalur alternatif tersebut. Kalau kita suka banyak minum dalam perjalanan akan lebih aman lewat jalan biasa karena lebih ramai dan banyak pom bensin ataupun masjid-masjid di sekitar jalan tersebut. Pemandangan yang disuguhkan tidak seindah jalur Palimanan-Cikidang.
Sebelum memasuki pantai, kita diwajibkan untuk membayar biaya masuk dengan rincian, pejalan kaki Rp 3000,-, motor Rp 8000,-, mobil sedan/jip Rp 20.000,-, sedangkan mini bus dikenakan tarif Rp 30.000,-.
Sesampai di Pelabuhan Ratu, kami pun mencari tempat penginapan di daerah Citepus. Sasaran utama kami adalah dekat pantai dan bersih. Karena musim libur lebaran, penginapan pun penuh disewakan. Bahkan ada yang tidur di gazebo atau pun membuat tenda di pinggir pantai. Kami bersyukur karena kami masih bisa menemukan rumah yang bisa disewa untuk kami sekedar tidur, makan daan bebersih. Harga sewa rumah yang di dalamnya ada kamar mandi, dapur, satu kamar tidur, ruang tamu beserta TV? Rp 300.000,- per malam.
Sekitar pukul 22.00, aku, sepupu serta keponakan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Sekedar ingin tahu suasana pantai Pelabuhan Ratu pada malam hari. Anginnya yang berhembus cukup dingin sehingga ku memutuskan untuk menggunakan jaket agar tidak terkena angin laut.
1345856982894098355
Pantai Pelabuhan Ratu di pagi hari. Dok.pribadi
Suasana pantai yang cenderung remang-remang, hanya mendapat cahaya sekedarnya dari warung-warung yang berjualan di pinggir pantai, ada muda-mudi yang memadu kasih. Tetapi lebih banyak pula yang memanfaatkan dengan bernyanyi-nyanyi ataupun berani memutuskan untuk bermain air di pantai pada malam hari. Lampu-lampu kapal nelayan yang tampak di kejauhan dan lampu mercusuar menjadi pesona Pantai malam itu.
Pagi harinya, setelah sholat subuh, pukul 05.30 WIB, kami langsung keluar menikmati udara Pantai Pelabuhan yang nyaman. Tidak dingin dan tidak panas. Karena posisi pantai ini di Selatan jadilah kita tidak bisa menikmati matahari terbit. Akan tetapi tidak menyurutkan perasaan kami untuk bermain di pantai. Air yang dingin tapi tidak berlebihan menjadi mainan air kami saat itu.
1345857185136068785
Pantai Pelabuhan Ratu. Dok.pribadi
Lagi asyik-asyiknya bermain air di pantai, ada pemandangan yang menyedihkan. Masih banyaknya orang-orang yang membuang sampah di laut, membuat pantai sering meninggalkan jejak sampah di pantai. Tidak hanya sampah plastik, tetapi juga sampah sterofoam kapal-kapalan yang diterbangkan menggunakan benang pun kami temukan. Jadilah kita bermain sambil membersihkan sampah dan menggulung benang. Padahal sudah disediakan bolongan khusus untuk mengumpulkan sampah.
1345857883632885385
Bungkus makanan nyangkut di pasir pantai. Dok.pribadi
Air laut Pelabuhan Ratu yang bening dan menyegarkan membuat kami betah lama-lama bermain air. Kalau ingin istirahat dulu setelah lelah bermain air dan ingin berjalan-jalan di sekitar pinggir pantai, bisa menyewa kuda dengan tarif Rp 20.000,- per jam.
1345857714871284249
Sewa kuda. Dok.pribadi
Atau ingin tantangan lebih lagi, bisa menyewa papan seluncur yang sudah di sediakan. Tapi bentuk papan seluncurnya tidak seperyi papan seluncur pada umumnya. Lebih seperti papan seluncur di Ancol untuk seluncuran di perosotan yang menurun.
Lalu bagaimana cara bermainnya? Kita bermain mengikuti arus ombak yang mengarah ke pantai.
Kalau baju kita terlanjur basah saking senangnya bermain di pantai tapi tidak membawa baju ganti, ada warung-warung yang menjual baju-baju mulai anak sampai dewasa dengan harga paling murah Rp 20.000,- .

Gunung Tangkuban Perahu

Pesona wisata Lembang Bandung di Gunung Tangkuban Perahu adalah satu bagian yang tak terpisahkan daripada eksistensi daerah Lembang Bandung tersebut. Tangkuban Parahu Lembang oleh masyarakat Jawa Barat telah melegenda melalui sebuah kisah bernama Sangkuriang. Sangkuriang adalah seorang anak manusia yang telah gagal memenuhi janjinya untuk membuat perahu termasuk danaunya dalam satu malam sebagai syarat menikahi Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Merasa kesal karena telah kehabisan waktu, Sangkuriang menendang perahu itu hingga melayang jauh dan posisinya terbalik. Perahu yg terbalik inilah yang dalam bahasa Sunda disebut tangkub, menjadi cikal bakal nama gunung yang kini dikenal bernama Tangkuban Perahu.
Baca juga: De’Ranch Lembang, Pesona Baru Wisata Lembang Bandung
Gunung Tangkuban Perahu adalah sebuah gunung api yang masih aktif, letaknya sekitar 30 km di utara kota Bandung tepatnya berada di Lembang. Gunung ini telah menjadi ikon wisata Jawa Barat, menjadi sebuah tempat wisata Lembang yang terkenal hingga ke mancanegara. Setiap akhir pekan, kawasan wisata Lembang selalu penuh dengan kunjungan para penikmat perjalanan. Udara Lembang yang sejuk dan terasa dingin terlebih di kala malam membuat banyak wisatawan betah menghabiskan waktu liburannya di sejumlah tempat-tempat menarik di Lembang.

Gunung Tangkuban Perahu – Lembang Bandung

Gunung Tangkuban Perahu  memiliki kawah yang besar. Kawah besar inilah yang menciptakan satu panorama menakjubkan jika Anda menjejakkan kaki di sana. Anda akan membutuhkan waktu 2 jam untuk bisa mengelilingi keselurahan kawah tersebut. Gas sulfur masih keluar dari kawah meskipun tidak aktif. Dari ketinggian Tangkuban Perahu, Anda akan disuguhi pemandangan yang begitu indah. Hanya saja, wisata Tangkuban Perahu di Lembang Bandung ini terbuka untuk kunjungan para wisatawan dari pukul 7 pagi hingga 5 sore, buka setiap hari.

Pesona Wisata Tangkuban Perahu Lembang
Pesona Wisata Tangkuban Perahu Lembang
Ada tiga kawah utama di Gunung Tangkuban Perahu. Kawah Paguyangan Badak, berumur kurang lebih 90.000-40.000 tahun lalu. Dalam fase pembentukan kawah secara geologis, selanjutnya terbentuk Kawah Upas yang ditaksir berumur 40.000-10.000 tahun lalu. Di fase terakhir, terbentuklah Kawah Ratu yang berumur 10.000 tahun lalu sampai sekarang.
Jika Anda sedang berada di Tangkuban Perahu, bau gas belerang adalah hal yang pasti Anda temui. Gunakan sapu tangan untuk menutupi hidung jika itu mengganggu Anda. Jika hari terasa panas, jangan lupa untuk membawa payung. Ini akan sangat berguna saat Anda menjelajahi areal wisata Tangkuban Perahu di bawah matahari yang terik. Udara Lembang yang dingin mungkin akan tidak bersahabat dengan Anda, bawalah jaket atau sweater Anda. Serta, upayakan telah sampai di gunung ini saat pagi karena pada siang hari kabut sudah mulai turun menutupi pepohonan. Anda dapat saja kehilangan pesona panoramanya saat itu.
Baca juga: Apa Saja Tempat Wisata Alam di Bandung?
Untuk dapat sampai di Tangkuban Perahu, Anda harus menempuh jarak perjalanan sekitar 30 km dari pusat kota Bandung. Tersedia transportasi publik yang sangat memadai untuk mengantarkan Anda ke salah satu tempat wisata Bandung yang terpopuler itu. Dukungan infrastruktur wilayah yang baik akan sangat memudahkan Anda untuk dapat tiba Lembang Bandung, hanya saja Anda mungkin akan menghadapi kemacetan di jalan raya menuju Lembang tersebut, terlebih di hari libur atau weekend. Destinasi wisata Lembang adalah salah satu yang terkenal di Jawa Barat dan Indonesia. Tak ayal, daerah ini selalu ramai dengan kunjungan wisatawan. Seperti tempat wisata Bogor dengan kawasan Puncak yang kerap penuh sesak dengan kendaraan di saat libur atau akhir pekan.
Kegiatan Wisata Tangkuban Perahu Lembang
Kegiatan Wisata Tangkuban Perahu Lembang

Kegiatan Wisata di Tangkuban Perahu Lembang

Tiada yang lebih menarik selain daripada menikmati panorama kawah yang memukau serta pemandangan dari ketinggian Tangkuban Perahu. Keindahan lingkungan alam yang masih terjaga di kawasan wisata itu akan membuat Anda kian betah. Mengambil foto dengan latar kawah Tangkuban Perahu adalah kegiatan yang hampir pasti dilakukan oleh setiap orang yang menginjakkan kakinya di Tangkuban Perahu. Selain itu, Anda dapat menjumpai mata air panas yang berada di tepi kawah. Jika Anda suka, Anda bahkan dapat merebus telur di permukaan air panas tersebut.

Hotel dan Penginapan Lembang

Jika Anda ingin menginap di kawasan wisata Tangkuban Perahu, terdapat sejumlah hotel dan penginapan yang dapat Anda temukan. Atau, Anda dapat mencari beberapa hotel murah di Lembang yang lokasinya strategis untuk menghabiskan liburan wisata di sejumlah objek wisata Lembang Bandung.

Pemandian Air Panas Ciater


Pemandian Air Panas Ciater
Kabupaten Subang – Jawa Barat – Indonesia

Pemandian Air Panas Ciater (Sari Ater)
Ciater atau Sari Ater merupakan salah satu tempat tujuan wisata andalan Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dalam satu bulan, tempat pemandian air panas alami Ciater mampu menyedot pengunjung rata-rata sebanyak 60.000 orang. Mereka tidak hanya wisatawan dari lingkup lokal Jawa Barat dan sekitarnya saja, melainkan juga datang dari kota-kota besar di Indonesia, bahkan tidak sedikit pula wisatawan dari mancanegara, seperti turis yang berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah (http://www.kotasubang.wordpress.com).
Pemandian air panas Ciater terletak tidak jauh dari Gunung Tangkuban Perahu. Air panas yang dihasilkan pun bersumber dari kawah aktif gunung yang menjadi legenda tanah Pasundan itu. Selain dialirkan ke pemandian Ciater, air yang mengaliri sungai sepanjang 2000 meter itu juga digunakan untuk kepentingan pengairan lahan persawahan. Menurut pengakuan para petani setempat, air yang bersumber dari Gunung Tangkuban Perahu itu lebih berdampak positif terhadap mutu hasil panen daripada jika menggunakan air biasa untuk mengairi sawah (http://202.146.5.33/ver1/negeriku).  
Sumber mata air panas yang terdapat di beberapa lokasi di Ciater disajikan dalam bentuk kolam dan kamar rendam dengan desain yang unik (http://www.subang.go.id). Dengan luas areal 30 hektare dan pesona alam khas pegunungan, obyek wisata terbesar di Jawa Barat ini menjanjikan berbagai fasilitas wisata bagi Anda dan keluarga untuk bersantai dengan berendam di hangatnya air panas yang menyehatkan sembari menikmati keindahan alam yang tersaji di sekitarnya.

 Pemandangan Alam Ciater di Kaki Gunung Tangkuban Perahu
Sumber Foto: bandungbox

Semula, kawasan yang terletak di kaki Gunung Tangkuban Perahu ini masih berupa areal hutan yang oleh sebagian warga sekitar dianggap angker. Di rimba tersebut, banyak terdapat pepohonan yang dikenal dengan nama pohon ater. Menurut cerita yang beredar di masyarakat tempatan, suatu ketika ada seseorang yang mencoba memotong pohon ater itu, dan ternyata dari cabang pohon yang dipotong tersebut keluarlah air yang cukup deras.
Fenomena ini tentu saja menjadi anugerah bagi masyarakat sekitar yang waktu itu sedang mengalami kesusahan akan air bersih. Pancaran air yang keluar dari pohon ater tersebut diyakini oleh warga berkhasiat untuk mengobati penyakit, terutama penyakit kulit. Kebenaran atas keyakinan warga itu dibuktikan oleh seorang peneliti dari Belanda, Hack Bessel, setelah melakukan pengujian terhadap air yang ternyata memang mujarab itu (http://www.kotasubang.wordpress.com).
Pada sekitar tahun 1960-an, seorang bernama Embah Ebos yang dikenal sebagai orang sakti, memulai usaha pembukaan hutan di kawasan tersebut. Daerah yang semula dianggap angker itu diubah menjadi lahan perkampungan dan diberi nama Ciater yang artinya “air yang memancar”. Dari sinilah nama Ciater bermula dan kemudian populer sebagai obyek wisata pemandian air panas. Sejak tahun 1968, potensi air panas di Ciater mulai dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Subang dengan menunjuk Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) untuk mengembangkan wisata air panas di Ciater (http://www.kotasubang.wordpress.com).
Cukup beragam keistimewaan yang ditawarkan pemandian air panas di Ciater, bahkan sebelum Anda tiba di lokasi pemandian. Di sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata, Anda akan disuguhi pemandangan yang sangat indah dan asri. Hamparan kebun teh yang menghijau di kanan dan kiri jalan akan menyegarkan pandangan serta menentramkan hati siapa saja yang melihatnya. Udara khas pegunungan yang sejuk akan menambah nyaman perjalanan Anda menuju lokasi pemandian air panas Ciater.
Sesampainya di Ciater, Anda dapat memilih lokasi mana yang ingin Anda datangi karena di tempat wisata ini ada beberapa pihak yang mengelola sejumlah tempat pemandian air panas. Selain menyajikan pemandian air panas alami, di Ciater juga terdapat kolam umum yang menyediakan fasilitas kamar-kamar yang disewakan. Di dalam kamar-kamar ini, Anda akan mendapatkan privacy dan kenyamanan berendam untuk menikmati sensasi air hangat sepuasnya. Selain itu, di obyek wisata ini juga disediakan fasilitas bungalo bagi pengunjung yang ingin menginap (http://www.kartikasari.com).

Fasilitas Istimewa Kolam Air Panas di Ciater
Sumber Foto: http://bandunglife.com
Pemandangan alam di sekitar kolam pun tidak kalah menakjubkan. Anda dapat menikmati keindahan air terjun yang berselimut kepulan uap air hangat di kompleks pemandian air panas Ciater ini. Berendam di Ciater akan membuat aliran darah terasa lancar sehingga badan akan terasa bugar. Khasiat air panas Ciater memang sudah teruji secara klinis. Berdasarkan hasil pengkajian tentang manfaat mandi air alam dan air kesehatan, air di Ciater mengandung kalsium, magnesium, chloride, sulfat, thermo, mineral, serta hypertherma dengan kadar aluminium yang tinggi yaitu 38,5 equiv persen, dan keasamannya juga sangat tinggi yaitu dengan ph 2,45. Air panas yang langsung berasal dari mata air Ciater diperkirakan bersuhu 43—46 derajat celcius. Sedangkan air yang sudah dialirkan ke kolam pemandian kadar temperaturnya rata-rata berkisar dari 37—42 derajat celsius. Ketika air panas yang mengalir dari Gunung Tangkuban Perahu itu sampai di areal persawahan dan sudah agak dingin, suhunya menjadi sekitar 8—10 derajat celsius (http://www.madina-sk.com).
Selain dapat mengobati penyakit kulit, manfaat yang terkandung di dalam aliran air panas Ciater juga diyakini berkhasiat untuk terapi penyembuhan rematik, gangguan syaraf dan tulang, serta penyembuhan kelumpuhan yang diakibatkan oleh penyakit darah tinggi atau stroke (http://www.subank.wordpress.com). Hal ini disebabkan karena air panas yang terdapat di Ciater mengandung belerang dengan komposisi yang ideal untuk kesehatan. Tentu saja khasiat dari air panas Ciater ini akan dapat dirasakan jika Anda melakukan terapi dengan berendam secara rutin dan teratur. Untuk menunjang kebutuhan pengunjung akan hal tersebut, di Ciater juga disediakan fasilitas tempat terapi pengobatan.
Tidak hanya pesona wisata alami dan terapi kesehatan yang Anda dapatkan di tempat tujuan wisata Ciater. Banyak kegiatan menyenangkan yang bisa Anda sekeluarga lakukan di tempat ini, seperti bersepeda, berenang, memancing, berperahu dan mendayung, arung jeram, berkuda, tenis lapangan, basket, voli, mini golf, gokart, berkemah, outbond, wahana permainan anak-anak, jalan-jalan di perkebunan teh, hingga mengunjungi kerajinan keramik.
Kompleks pemandian air panas alami Ciater atau Sari Ater terletak di Desa Ciater, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Indonesia.

Mendayung, Salah Satu Pilihan Aktivitas Wisata di Ciater
Sumber Foto: http://www.infobisnisbandung.com
Untuk mencapai pemandian air panas Ciater sangatlah mudah karena tempat tujuan wisata ini berada di lokasi yang cukup strategis, yakni tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Subang dan Kota Bandung dengan Lembang yang berada di antaranya. Rute menuju Ciater dapat dilakukan dari semua arah. Dari Bandung, Ciater dapat dicapai hanya dalam waktu 30 menit dengan jarak 32 kilometer. Dari Lembang berjarak 15 kilometer, dari Kawah berjarak 7 kilometer, sedangkan jika berangkat dari Subang akan memakan jarak tempuh sekitar 30 kilometer. Apabila Anda berangkat dari ibukota Jakarta, terdapat dua pilihan rute ke pemandian air panas Ciater. Pertama, melalui rute arah Puncak yang berjarak tempuh sepanjang 212 kilometer, dan rute kedua adalah dari Jakarta melewati Tol Cikampek—Bekasi dengan jarak tempuh 185 kilometer.
Perjalanan menuju pemandian air panas Ciater melalui jalan darat dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika Anda memakai jasa angkutan umum dari arah Bandung, sebaiknya Anda berangkat dari Terminal Ledeng dengan menumpang angkutan umum jurusan Ledeng—Lembang. Setelah tiba di Terminal Lembang, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan mengunakan angkutan umum jurusan Lembang—Subang. Setelah kira-kira menempuh 30 menit perjalanan dari Terminal Lembang, turunlah di Jalan Cagak, Desa Ciater. Di situlah lokasi wisata pemandian air panas Ciater berada.
Biaya masuk kompleks pemandian air panas Ciater adalah sebesar Rp15.000/orang (per Oktober 2009). Harga tersebut belum termasuk biaya untuk bisa menikmati air panas di kolam pemandian yang dikenai banderol bervariasi, dari Rp20.000,- hingga Rp55.000,- tergantung fasilitas yang disediakan.
Fasilitas-fasilitas yang disediakan untuk mendukung obyek wisata pemandian air panas Ciater sangat beraneka macam yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari fasilitas umum, pelayanan istimewa, penginapan, hingga kuliner khas sebagai oleh-oleh disediakan di tempat tujuan wisata alami dan kesehatan ini. Fasilitas umum seperti lahan parkir, masjid, toilet, serta sarana berbelanja, sudah pasti disediakan di lokasi wisata ini.
Selain itu, obyek wisata pemandian air panas Ciater juga menawarkan beragam fasilitas spesial, di antaranya fasilitas untuk olahraga dan permainan, kolam pemancingan, wahana anak-anak, area outbond, lahan perkemahan, dan masih banyak fasilitas penunjang yang lain. Bahkan, Anda bisa menyelenggarakan acara di lokasi ini karena tersedia juga fasilitas tempat konferensi dengan ruang makan yang cukup luas, tentu saja dengan perhitungan biaya yang sudah ditetapkan oleh para pengelola wisata yang tersebar di sejumlah tempat di Ciater ini. Bagi Anda yang ingin menginap dan menghabiskan malam di lokasi wisata ini, disediakan juga beragam fasilitas penginapan serta bungalo dengan berbagai tipe. Ada juga sejumlah area yang menyediakan fasilitas internet hotspot.

Nanas Khas Subang untuk Oleh-oleh
Sumber Foto: http://raxie.synthasite.com
Untuk sajian kulinernya pun tersedia beraneka jenis restoran hingga warung makan sederhana. Sebagai menu andalan sekaligus makanan khas di tempat wisata ini adalah sate dan sop kelinci. Sebelum pulang dan kembali menyuntuki aktivitas keseharian, sempatkanlah berbelanja buah nanas yang menjadi buah kebanggaan warga Subang sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman Anda. Di lokasi wisata maupun di sepanjang jalan menuju Ciater, terdapat cukup banyak penjual buah nanas dengan harga, tampilan, dan kualitas yang bervariasi

Jatiluhur

Selain dapat mengunjungi waduk dan bendungan di kawasan wisata Jatiluhur juga terdapat wahana permainan berenang dengan sliding atau tempat seluncurannya, nama dari objek wisata ini adalah Jatiluhur Water World.  Didalamnya terdapat 1 kolam renang olimpic, 1 kolam anak berikut slidingnya khusus untuk anak-anak, 1 kolam kece yang dangkal dan 1 kolam penerima untuk seluncuran dari 2 sliding ukuran dewasa selain itu juga terdapat pula wahana ember tumpah dan Bungge Trampolin yang dapat memicu adrenalin putra-putri anda selain permainan Plying fox.


Pangalengan


Selasa, 20 Desember 2011

Ingin berwisata yang mempunyai keindahan alam serta berhawa sejuk? Pangalengan adalah tempatnya.

Kota kecil di sekitar 45 km dari Bandung ke arah selatan ini terkenal sebagai penghasil aneka sayuran hijau yang dikirim ke beberapa kota di Indonesia. Pangalengan terkenal sebagai daerah pertanian, peternakan, serta perkebunan teh dan kina yang dikelola oleh PTPN dan daerah penghasil susu sapi.

Di wilayah ini banyak sekali industri yang mengolah susu sapi menjadi produk-produk makanan, seperti permen susu (caramel), kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, dan noga susu.

Perjalanan ke Pangelengan akan menjadi pengalaman sungguh menyenangkan karena banyak pesona wisata, di antaranya wisata perkebunan, danau, hutan serta petualangan rafting. Semuanya cocok untuk melepaskan ketegangan dan menyegarkan kembali pikiran Anda.

Pangalengan menjadi salah satu lokasi ekowisata yang sedang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk menjadi daerah tujuan wisata andalan melalui program sadar wisata.
 


Di tempat ini, terdapat banyak tempat wisata yang menarik, seperti panorama kebun teh, hutan pinus, dan kebun sayur yang menjadi pemandangan khas di ketinggian 1.000-1.400 meter di atas permukaan laut.

  Pangalengan memiliki sejuta pesona alam yang indah. Di sini, Anda dapat menemukan banyak tempat wisata seperti Situ Cileunca, Malabar, Pemandian air panas Cibolang, perkebunan teh, dan banyak lagi tempat wisata lainnya.

Menjelajahi alam di Pangalengan bisa Anda lakukan dalam satu kawasan yang sangat berdekatan, saling terpadu, dan berhubungan antara wisata petualangan alam dengan atraksi menarik, seperti outbound, paintball, flying fox, dan kegiatan lainnya. (ftr)

MUSEUM GEOLOGI



geo_museum.jpg
MUSEUM GEOLOGI
Museum Geologi terletak di Rembrandt Straat, sekarang Jalan Diponegoro. Gedung bergaya Art Deco ini adalah bangunan modern pada zamannya. Dirancang oleh arsitek Belanda Ir.H.M.van Schouwenburg dan dibangun pada tahun 1928. Hampir setahun kemudian bangunan pun rampung. Diresmikan dengan nama Geologisch Laboratorium (16 Mei 1929), bertepatan dengan penyelenggaraan The Fourth Pacific Science Congress (16-25 Mei) di Bandung.
Geologisch Laboratorium, disebut juga Geologisch Museum, dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mendokumentasi contoh batuan, mineral, serta fosil yang dikumpulkan para ahli geologi dari berbagai daerah di kawasan Hindia Belanda. Sekarang Museum Geologi adalah bagian dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Republik Indonesia.
Koleksi Museum Geologi dikategorikan kedalam tiga ruangan,
  1. Sejarah Kehidupan
  2. Geologi Indonesia
  3. Geologi untuk Kehidupan Manusia

geo_cetakan_kaki.jpg
CETAKAN KAKI TYRANNOSAURUS
SEJARAH KEHIDUPAN menempati ruang sayap timur, dengan koleksi fosil yang dikelompokkan menurut era Prakambrium-Paleozoikum, Mesozoikum, dan Kenozoikum.
Galeri Mesozoikum paling menarik untuk satu alasan: di sini terdapat replika fosil T-rex dan cetakan kaki Tyrannosaurus. Cetakan kaki ditemukan ahli paleontologi Inggris, Phil Manning, pada tahun 2007 di Hell Creek Formation, Montana (negara bagian Amerika, berbatasan dengan Kanada).
Note: Mesozoikum (251-65 juta tahun lalu) dibagi tiga periode atau zaman: Trias (dinosaurus mulai muncul), Jura (dinosaurus ‘memenuhi’ Bumi), dan Kapur (dinosaurus punah di akhir zaman Kapur akibat tumbukan meteorit raksasa).
Galeri lain di ruang Sejarah Kehidupan adalah Vertebrata Indonesia, Manusia Purba, dan Bandung. Vertebrata Indonesia menampilkan koleksi fosil vertebrata seperti gajah purba (Stegodon trigonocephalus, Sinomastodon bumiayuensis), badak (Rhinoceros sondaicus), kuda nil (Hexaprotodon simplex), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau). Kura-kura raksasa Geochelone atlas, sekarang Colossochelys atlas, hidup 2 juta tahun lalu tetapi halnya dengan gajah dan kerbau purba, adalah bagian dari spesies yang sudah punah.
Galeri Bandung menampilkan berbagai bukti bahwa Bandung dulunya adalah danau yang luas. Antara lain: bukti kenampakan morfologi yang berbentuk cekungan, terisi oleh batuan dengan ciri khas endapan danau dan ditemukannya fosil ikan air tawar (Buku Panduan Museum Geologi).

geo_17.jpg
FOSIL SANGIRAN 17 (S-17)
(fosil tengkorak Homo erectus paling lengkap yang pernah ditemukan)
Galeri Manusia Purba merupakan ruang khusus koleksi fosil manusia purba ditemukan di Indonesia. Sebagian besar fosil yang ditemukan di Pulau Jawa, terutama di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo yang mengalir dari sumbernya di Gunung Lawu, Jawa Tengah, hingga bermuara di Laut Jawa, utara Gresik, Jawa Timur. Beberapa lokasi situs manusia purba yang telah dikenal dunia:
  1. Trinil - 11 km di barat kota Ngawi, Jawa Timur, merupakan lokasi penemuan fosil Pithecanthropus (sekarang Homo erectus) pertama pada 1891 oleh Eugene Dubois, ahli anatomi dan orang pertama yang melakukan ekskavasi fosil di Indonesia (Hindia Belanda pada saat itu) dalam upayanya menemukan fosil transisi (the missing link). Fosil tengkorak ini diberi kode Pithecanthropus I (P-I).
  2. Ngandong - sekitar 130 km di sebelah barat Semarang, termasuk kabupaten Blora (kota kelahiran sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer). Penggalian yang dilakukan sejak 1930-an telah mengangkat ribuan fosil vertebrata dan 11 tengkorak/fragmen manusia purba. Awal tahun ini Tim Vertebrata, Museum Geologi, berhasil menggali keluar fosil gajah purba spesies Elephas hysudrindicus di Dusun Sunggun, Blora. Fosil relatif utuh, diperkirakan setinggi 2,5 meter, dan merupakan fosil gajah purba terlengkap selama seratus tahun terakhir. Banyaknya penemuan fosil vertebrata melahirkan dugaan Blora Selatan pada zaman Pleistosen adalah savana yang dilewati Bengawan Solo Purba.
  3. Sangiran - dikukuhkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (1996), terletak 15 km utara Solo. Ekskavasi Sangiran pada mulanya dilakukan oleh R.G.H. von Koenigswald (1936-1941), kemudian dilanjutkan oleh Prof.Sartono Sastrohamidjojo (ITB) dan Prof.Teuku Jacob (UGM). Salah satu primadona dari situs ini adalah Sangiran 17 (S-17), fosil tengkorak Homo erectus paling utuh yang ditemukan Bpk.Tiwokromo pada tahun 1969. Fosil dideskripsi oleh Prof.Sartono (1971) sebagai Pithecanthropus 8 (P-VIII) atau dikenal juga sebagai Sangiran 17. S-17 diperkirakan berusia 700.000-800.000 tahun.


geo_ruang_geo_ind.jpg
RUANG GEOLOGI INDONESIA
GEOLOGI INDONESIA menempati ruang sayap barat, terdiri dari galeri Asal Mula Bumi, Tektonik Indonesia, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, serta galeri Survei Geologi, Gunungapi, Dunia Batuan dan Mineral.
Galeri Asal Mula Bumi menyajikan gambaran sistem tatasurya kita yang terbentuk 4,6 milyar tahun yang lalu dan koleksi meteorit yang jatuh di Bandung, Banten, Cirebon, Prambanan, Rembang, Madiun, Pasuruan, Temanggung.
Galeri Sumatera menyajikan Sesar Besar Sumatera dengan aktivitas tektonik yang membentuk Ngarai Sianok. Galeri Kalimantan menunjukkan proses pembentukan batubara dan keterdapatan intan. Galeri Maluku memiliki contoh batuan dari dasar Laut Banda pada kedalaman 14,5 meter dan 29 meter.
Galeri Jawa & Nusa Tenggara antara lain menyajikan stalaktit dan stalagmit dari Gua Inten, Karangbolong, Jawa Tengah. Galeri Sulawesi menjelaskan proses terbentuknya Pulau Sulawesi. Sisi sebelah barat pulau berbentuk K besar ternyata berasal dari Pulau Kalimantan yang copot karena pergerakan lempeng sekitar 50-20 juta tahun lalu. Galeri Papua memiliki koleksi cebakan tembaga dari bumi Papua.
Galeri Survei Geologi menampilkan koleksi alat dan bahan yang digunakan dalam penyelidikan dan penelitian geologi seperti peta topografi, citra satelit, serta peralatan lapangan seperti kompas, palu, dll.
Galeri Gunungapi Indonesia menjelaskan gunungapi dan berbagai hal yang berkaitan dengannya seperti lava, magma, hingga jalur tektonik seperti Jalur Mediteran dan Jalur Lingkar Pasifik, serta Lempeng Indo-Australia maupun Lempeng Eurasia. Juga ditampilkan contoh-contoh batuan hasil letusan gunungapi.
Galeri Batuan dan Mineral menampilkan ragam koleksi batuan, dikategorikan sebagai batuan beku (contoh: andesit yang banyak digunakan untuk memahat arca), batuan sedimen (batulempung, batugamping, batubara), batuan malihan (marmer).

geo_grafit.jpg
MINERAL GRAFIT
GEOLOGI UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA, terletak di lantai dua, terdiri dari galeri Pemanfaatan Batuan dan Mineral, Eksplorasi dan Eksploitasi, Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari, Bahan Galian Komoditas Nasional, Gempabumi dan Gerakan Tanah, Bahaya dan Manfaat Gunungapi, Air dan Lingkungan.
Galeri Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari seperti satu halaman catatan harianku saat kecil. Ketika itu aku kok bingung, bertanya darimana asalnya pensil. Hitamnya pensil itu apa dan berasal dari mana, dan bagaimana pohon bisa diolah menjadi batang pensil. Tadinya aku mengira semua orang tahu tetapi ternyata malah kebanyakan orang dewasa tak tahu loh.
Galeri Mineral untuk Kehidupan Sehari-hari menyajikan asal-usul berbagai peralatan yang digunakan sehari-hari, seperti piring, gelas, cangkir, kaca lemari berasal dari mineral kuarsa. Panci, rantang, ketel berasal dari mineral bauksit. Sendok, garpu, pisau berasal dari mineral nikel. Tabung gas dan kompor berasal dari mineral besi/baja. Lengkap dengan contoh mineralnya.
Iya, suatu pagi di akhir pekan, duduk di beranda menikmati udara segar dan matahari, sambil ngopi, perhatikan deh sekeliling rumah. Kita akan menemukan ternyata mineral yang ditambang dari Bumi ada di sekeliling kita loh. Fondasi rumah dari batu andesit, bata dan genting terbuat lempung, atap atau plafon dari asbes atau gipsum, lantai terbuat dari batu granit atau marmer, cat berasal dari mineral oker, semen dibuat dari campuran batu gamping, lempung, pasar kuarsa, pasir besi, dan gipsum, kemudian keramik dan kaca diproses dari pasir kuarsa, grendel dan engsel pintu/jendela dibuat dari kuningan atau tembaga.
Bumi ternyata tak hanya tumbuhkan padi dan pohon-pohon, tetapi juga mengandung mineral yang berguna. Iya, Gandhi pernah berujar jika saja setiap orang mengambil yang cukup untuk dirinya maka Bumi akan memiliki cukup untuk setiap orang...

Referensi: Panduan Museum Geologi

Alamat:
MUSEUM GEOLOGI
Jl. Diponegoro no.57
Bandung 40122
Telp. 022-7213822

Laman:
http://museum.grdc.esdm.go.id

Jam Kunjungan:
Senin-Kamis 08.00-16.00
Sabtu-Minggu 08.00-14.00
Jumat dan Libur Nasional Tutup

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf
Terletak di ruas Jalan Asia Afrika, Gedung Merdeka merupakan salah satu landmark utama kota Bandung. Arsitektur lamanya yang masih terjaga menjadikan bagian luar dari gedung ini sering digunakan sebagai latar pengambilan gambar untuk berbagai keperluan seperti Majalah, pre-wedding atau sekedar foto kenangan para wisatawan.

Umumnya memang tampilan luar dari gedung inilah yang banyak menarik perhatian para wisatawan, padahal di dalam gedung ini masih tersimpan begitu banyak kekayaan informasi yang bisa dieksplorasi, terutama bagi mereka penikmat wisata sejarah.

Gedung Merdeka sendiri awalnya merupakan bangunan Sociëteit Concordia, yaitu tempat rekreasi dan sosialisasi sejumlah ekspatriat Belanda yang bermukim di Bandung pada masa pendudukan Belanda.

Gedung ini menjadi tempat para pegawai perkebunan, pengusaha, para petinggi militer serta sipil untuk berkumpul, berdansa, menonton pertunjukan atau sekedar makan malam. Gedung ini menjadi ikon rasisme dari masyarakat Belanda, karena pada masa pendudukan Belanda terdapat larangan keras bagi warga pribumi untuk masuk ke dalam area gedung ini yang berbunyi 'Verbodden voor Honden en Inlander' (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi).

Didirikan tahun 1895, gedung ini sempat direnovasi total pada tahun 1926 oleh dua guru besar Arsitektur di Techniche Hogenschool (sekarang ITB), Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Gedung yang awalnya cukup sederhana ini kemudian menjadi sebuah gedung megah dengan arsitektur modern (art deco). Selanjutnya, Gedung ini sempat beralih fungsi menjadi pusat kebudayaan pada era pendudukan Jepang, dengan sebutan Dai Toa Kaman. Antara tahun 1946-1950, wilayah Bandung termasuk yang diduduki oleh tentara NICA, gedung ini beralih fungsi menjadi gedung pertemuan umum.

Menjelang penyelenggaraan konferensi Asia-Afrika, Presiden Soekarno mengistruksikan penggantian nama gedung itu menjadi Gedung Merdeka, bersamaan dengan penggantian nama sebagian ruas Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika dan Gedung Dana Pensiun (di sebelah Museum Geologi) menjadi Gedung Dwi Warna.

Pembenahan dilakukan mulai tahun 1968 dan sejak 1970 gedung ini digunakan untuk berbagai perhelatan nasional dan internasional. Mulai tahun 1980, Presiden Soeharto meresmikan seluruh kompleks Gedung Merdeka sebagai Museum Konferensi Asia Afrika.

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf

Gedung Merdeka

14-12-2011 Kota Bandung 9772 baca
 10  1  381


Gedung Merdeka terletak di Jalan Asia Afrika No.  65 Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Pada koordinat 06º55'15,5" LS dan 107º36'35,4" BT. Letaknya berdampingan dengan Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika dengan batas utara: Jalan Naripan, timur: Gedung Konfrensi Asia Afrika, selatan: Jalan Asia Afrika dan barat: Cikapundung. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang. 
Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan.  Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia. 
Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.
Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974. 
Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m²,  dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik. 
 
Lokasi:  Jalan Asia Afrika No.  65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=80&lang=id#sthash.06qCecJS.dpuf